BAB II
PEMBAHASAN
A. Suasana di medan perang, Kurukshetra
Sebelum
pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India
Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina,Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dan lain-lain turut berpartisipasi dalam pembantaian
besar-besaran tersebut.Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan
bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang
ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.Pasukan Korawa menghadap ke barat sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur.
Pasukan
Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi.
Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon diciptakan
Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya lebih banyak daripada pasukan
Pandawa, dan formasinya lebih menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam
peperangan. Pasukan gajah merupakan tubuh formasi, para Raja merupakan kepala
dan pasukan berkuda merupakan sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang
kelihatannya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan
dari Arjuna, rasa percaya dirinya bangkit.
B. Turunnya Bhagawad Gita
Sebelum
pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang
menggemparkan seluruh medan perang, kemudian disusul oleh para Raja dan
ksatria, baik dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya,
agar membawanya ke tengah medan pertempuran, supaya Arjuna bisa melihat siapa
yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di medan
pertempuran.
Di
tengah medan pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, teman, saudara,
ipar, dan kerabatnya berdiri di medan pertempuran, siap untuk bertempur.
Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat keadaan itu. Ia tidak tega untuk
membunuh mereka semua. Ia ingin mengundurkan diri dari medan pertempuran.
Arjuna berkata, "Kresna yang baik hati, setelah
melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk
bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut
saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti
itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita
berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?"
Dilanda
oleh pergolakan batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Kresna mencoba untuk
menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan
wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia bisa membedakan mana yang benar
dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan berbagai ajaran Hindu kepada Arjuna,
agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran.
Selain itu, Kresna memperlihatkan wujud semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna
tahu siapa Kresna sebenarnya.
Wejangan
suci yang diberikan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian disebut Bhagavad Gītā, yang berarti "Nyanyian Tuhan". Ajaran tersebut
kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan
umat Hindu, karena dianggap merupakan pokok-pokok ajaran Hindu dan
intisari ajaran Veda.
C. Penghormatan sebelum perang oleh
Yudistira
Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya
dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai.
Arjuna mengangkat busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai
gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan
terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya turut
menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.
Pada
saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira melepaskan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil
mencakupkan tangan dan berjalan ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat
tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakang sambil bertanya-tanya,
namun Yudistira diam membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak
terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira.
Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan
senjata lengkap dan tidak melepaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira
berjalan melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang
tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat
dihormatinya.
Yudistira berkata, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O
paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam
pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon doa
restu paduka”.
Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam
menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku
seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia.
Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang ingin
kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera
Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O
Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak
kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Keadaan ini
benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah mengikat diriku...”
Setelah
Yudistira mendapat doa restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan doa restu yang
sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendoakan agar kemenangan
berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat doa restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai
pertarungan.
D. Yuyutsu memihak Pandawa
Setelah
tiba di tengah-tengah medan pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling
berhadapan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang
memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”
Setelah
berseru demikian, suasana hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa
terdengar jawaban yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru,
”Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka
sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja
berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”
Dengan
gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur
menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara
menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah
bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda
sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan
kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang
juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan
menemui ajalnya!”
Setelah
mendengar jawaban demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para
Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.
E. Pembantaian Bisma
Pertempuran
dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa
dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria
Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar
berhati-hati. Ia sendiri mencoba menyerang Bisma dan para pengawalnya.
Namun
usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak berhasil. Mereka menerima
kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di
hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berkata bahwa kemenangan
sesungguhnya akan berada di pihak Pandawa.
F. Duel Arjuna dengan Bisma
Pada
hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan keadaan yang didapat pada
hari pertama. Arjuna mencoba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para
pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap
tenaga sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang hendak
membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan sebagian besar pasukan
Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa,
Arjuna
dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya
berkali-kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari
kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun
serangan dari Duryodana tidak berhasil dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta
Bisma sampai meninggal. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi medan
laga. Di akhir hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.
G. Habisnya kesabaran Kresna
Kesabaran Kresna habis sehingga ia ingin
menghabisiBisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna. Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan
Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima
berada di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakang. Bisma ingin agar tidak
terjadi kegagalan lagi.
Sementara itu para Pandawa
mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit denganBima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan
dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun
banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyakimenggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih
bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi
Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia
mengubah perasaanya.
Arjuna dan Kresna mencoba menyerang Bhishma.
Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun
Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi
sangat marah dengan keadaan itu dan berkata, "Aku sudah tak bisa bersabar
lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri," lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma.
Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika
gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk
melakukannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna
berhenti.
Arjuna berkata, “O junjunganku,
padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini
hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan
menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba
yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”
Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya
mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua
melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.
H. Keberanian Bima
Hari
keempat merupakan hari dimana Bima menunjukkan
keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk bergerak. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang.
Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu.
Bima
muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa
dengan gada. KemudianDuryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika
Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan
menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan
dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa
dan membunuh delapan adik Duryodana. Akhirnya ia dipanah dan tersungkur di
keretanya.
Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada
pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak ada yang mampu melawan
Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari
itu, Duryodana kehilangan banyak
saudara-saudaranya.
I.
Perbantaian
terus berlanjut
Pada
hari kelima, pembantaian terus berlanjut. Pasukan Pandawa dengan segenap tenaga
membalas serangan Bisma. Bima berada di garis depan
bersama Srikandi danDrestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai
seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki
membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya.Pertempuran dilanjutkan
dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesusahan sehingga berada dalam
situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan
menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna bertempur dan membunuh ribuan
tentara yang dikirimDuryodana untuk menyerangnya.
Pertumpahan
darah yang sulit dibayangkan terus berlanjut dari hari ke hari selama
pertempuran berlangsung. Hari keenam merupakan hari pembantaian yang hebat. Drona
membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi
kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.
Pada
hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai
karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma,
pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar
berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun
Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan
bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia ingin
mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri.
Ia
meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan
memuncak, bergerak berjalan menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah
tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna.
Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk
menghentikan langkahnya.
Dengan
sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan
kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji
bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat
paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan
akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan
membunuh kakek yang terhormat itu!...”
Kresna
tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan
kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan
kembali pertarungannya.
J.
Gugurnya
Bisma
Resi Bisma tidur di "ranjang
panah" (saratalpa) Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa
menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan doa restu. Pandawa
menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari cara untuk mengalahkan Bisma.
Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang.
Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk
mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba menyadarkan Arjuna,
tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa
dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma
hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang
berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna
memanah Bisma berkali-kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma
terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja
hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma
yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma
menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal
yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna
menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma
merestui tindakan Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari kematian
ketika garis balik matahari berada di utara.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bhismaparwa konon merupakan bagian terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung kitabBhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana
kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukanPandawa berhadapan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresnaberada di antara kedua pasukan. Arjuna
pun bisa melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih
karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat
bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang
berhadapan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah
wejangan. Wejangannya ini disebut dengan nama Bhagawad Gita atau "Gita Sang Bagawan", artinya adalah nyanyian seorang suci.
Bhismaparwa diakhiri dengan
dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa
ia bisa meninggal pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk
tetap tidur terbentang saja pada "tempat tidur panahnya" (saratalpa)
sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah banyak
sekali sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya
ujung-ujung panahnya saja.
DAFTAR PUSTAKA
Subramaniam,
Kamala. Mahabharata. Paramita
Surabaya : 2003
Comments
Post a Comment